Inilah alasan mengapa ekonomi Negara Indonesia masih stagnan ditaraf 5 persen

Inilah alasan mengapa ekonomi Negara Indonesia masih stagnan ditaraf 5 persen

PayDaySHSG. – Inilah alasan mengapa ekonomi Negara Indonesia masih stagnan ditaraf 5 persenPertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2017 mencapai taraf 5,7 persen. Jika dibandingkan Negara-negara tetangga seperti Filipina dan Vietnam, realisasi pertubuhan ekonomi yang ada di Indonesia masih kalah jauh. Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ekonomi Indonesia tidak significan. Dimana perekonomiannya masih naik turun dan cenderung stagnan pada taraf 5 persen.

Berdasarkan hasil riset tercatat bahwa ekonomi Indonesia pada tahun berada pada taraf 5,2 persen, 2015 pada taraf 4,88 persen, 2016 pada taraf 5,2 persen dan pada tahun 2017 pada taraf 5,7 persen. Jika dibandingkan dengan Negara tetangga, kondisi ekonomi filiphina berhasil tumbuh 6,7 persen dan ekonomi Vietnam berhasil tumbuh sebesar 6,81 persen.

Kepala BPS mengungkapkan bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang melemah sehingga tidak mencapai angka 5 persen. Sehingga itu menjadi salah satu penyebab utama domestic ekonomi Indonesia. Hal ini tentunya perlu menjadi perahatian pemerintah terutama dalam menjaga konsumsi rumah tangga sehingga seluruh komponen menjadi positif.

Berikut merupakan beberapa faktor yang membuat kondisi ekonomi Indonesia menjadi stagnan

CNBC Indonesia merangkum seluruh pandangan dari berbagai ekonom yang menyangkut faktor-faktor apa saja yang membuat ekonomi Indonesia hanya mampu tubuh pada taraf 5 persen. Berikut adalah faktor-faktornya :

  • Ekonomi bank permata josua pardede

Pemerintah memandang bahwa stagnansi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tak lepas dari trend pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih banyak terkena dampak dari berakhirnya era komoditas pada tahun 2014 silam.  Pada tahun 2014 realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia turun drastic menajdi 5,2 persen yang sebelumnya pada tahun 2013 mencapai 5,56 persen hampir mencapai 6 persen.

Dampak tersebut saat ini masih sangat terasa di sebagian wilayah Indonesia yang merupakan penghasil komoditas di berbagai daerah. Meskipun sekarang harga komoditas sudah cenderung meningkat kembali namun kegiatan ekonomi di daerah penghasil komoditas masih lemah. Selain itu yang menyebabkan realisasi pertumbuhan ekomi Indonesia hanya 5 persen adalah menurunnya kontribusi sector manufaktur.  Namun disisi lain sector jasa bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan sector padat karya yang ada.

  • Kepala ekonom CIMB Niaga Adrian Panggabean

Responden menilai anjloknya harga komoditas periode 2013-2014 berpengaruh cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ditambah lagi selama ini Indonesia sangat mengandalkan sector tersebut sebagai mesin utama dalam penggerak ekonomi tingakt nasional. Dengan turunnya ekspor juga membuat konfigurasi makro ekonomi Indonesia memburuk.

Sector perbankan juga tertekan oleh NPL yang pada akhirnya Indonesia terjembak dalam perlambatan ekonomi terpanajng dalam era 30 tahun terakhir ini. Selain itu dengan adanya ketidak pastian berbinis di Indonesia juga dianggap memberikan banyak pengaruh. Investasi sector swasta masih banyak yang tertahan dan itu tercermin dalam pertumbuhan kredit perbankan tahun ini yang diperkirakan tumbuh sebagai satu digit.
beberapa ketidak pastian itu pada akhirnya mendorong para investor wait and see. Karena dari sisi kebijakan perpajakan serta kondisi ekonomi dunia yang belum semuanya pulih dengan sempurna. Maka diperlukan kebijakan yang strategis utnuk mengembalikan kepercayaan pada dunia usaha yang ada di Indonesia.

  • Ketua Ekonom bank BCA

kasus ini tak jauh berbeda dengan dua ekonom sebelumnya dimana era komoditas membuat konsumsi konsumsi yang selama ini diandalkan sebagai kunci utama penggerak ekonomi  yang ada di Indonesia tertahan.  Terdapat banyak faktor yang membuat ekonomi Indonesia hanya tumbuh stagnan pada taraf 5 persen. Hal itu dapat dilihat dari konsumsi barang tahan lama yang reltif stagnan sejauh ini. Diaman kecenderungan kelas sosial kalangan menengah kea tad menahan konsumsi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu pada kalangan menengah kebawah, upah rilnya tidak meningkat sehingga cenderung mengurangi konsumsi.

Disisi lain terdapat dua penyebab inflasi yang menurun yaitu terkait dengan core inflasion atau infalsi inti yang mencakup harga pangan dan pelemahan nilai tukar rupiah terhahadap USD dolar amerika serikat. Sehingga harga pangan sejauh ini mengalami penurunan sepanjang tahun 2018. Namun jika dilihat komponennya harga volatile foods pada bulan agustus memiliki yang cukup stabil.

Harga barang-barang subsidi tidka mengalami kenaikan karena pemerintah commit tidak mengurangi subsidi maka dari itu sumber hasil inflasi hanya berada pada core inflasi. Disisi lain para responden juga menyatakan bahwa permasalahan sebernarnya dalam pelemahan rupiah juga menajdi slaah satu faktor penyebab menurunya inflasi. Namun pelemahan rupiah hanyalah penyumbang kecing dari inflasi yang ada saat ini.

Faktor yang dominan dala pelemahan nilai rupiah terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang menyebabkan imported inflation atau inflasi ayng disebabkan kenaikan harga barang-barang konsumsi yang di dapat dari import Negara lain. Tapi niali ini relatif kecil di mata keranjang perhitungan inflasi dunia.