Technology Perbankan dan Finansial

Technology Perbankan dan Finansial

PayDaySHSG. – Perbankan nasional dilanda perlambatan kapasitas keuangan. Perihal ini terlihat dari melambatnya credit yang disalurkan, hanya tumbuh 11,1% year on year (yoy). Seperti dikatakan Bank Indonesia pekan lalu, s/d Februari 2015, rasio credit memiliki masalah atau non performing loan (NPL) naik ke level 2,43% dari tempat 2,16% di akhir 2014. Selain itu, perkembangan laba juga jadi begitu terbatas yakni cuma sampai 4.38% yoy. Catatan itu sejalan dengan kapasitas perekonomian domestik yang cuma membukukan perkembangan 4,71%.

Karenanya, perbankan nasional hari-hari ini mesti jeli memastikan langkah untuk dapat bertahan di dalam ketidakpastian makro ekonomi. Bila dahulu kita kenal arti too big to fail dalam penyelamatan bank, sekarang ini muncul arti baru yakni too complex to resolve. Perihal ini tunjukkan jika regulator di sejumlah negara maju tengah berusaha menguraikan risiko-risiko perbankan supaya tidak berefek turunan ke sektor-sektor lainnya.

Konkretnya, bank dituntut untuk memecah segmen-segmen bisnisnya supaya risikonya bisa teratasi atau terurai. Dengan begitu, bila salah satunya fragmen bisnisnya tidak maksimal maupun tidak berhasil, masalah itu bisa selekasnya dimatikan sebelum hal tersebut menghajar usaha bank keseluruhannya. Dalam keadaan seperti sekarang ini, beberapa pilihan bisa dikerjakan oleh manajemen perbankan, diantaranya, pemotongan biaya-biaya, ide perkembangan usaha baru untuk memberi dukungan penambahan penghasilan, maupun pengurangan asset beresiko serta asset tidak produktif supaya lebih ramping serta sehat.

Hadapi Revolusi Digital

Berangkat dari situasi dan perkembangan bisnis perbankan yang tengah menghadapi tantangan berat tersebut di atas, maka diperlukan inisiatif atau pun inovasi baru untuk mendukung peningkatan pendapatan. Perbankan domestik kini dituntut lebih solid dan tangguh dalam menghadapi tantangan yang tengah dihadapi.

Hal per tama adalah inovasi produk dan layanan perbankan. Ekonom legendaris Joseph Schumpeter pernah mengatakan: “The competition posed by new products was far more important than marginal changes in the prices of existing products”. Ini dapat diartikan bahwa kompetisi yang terjadi karena produk-produk baru jauh lebih penting daripada hanya sekadar perubahan harga dari produk-produk yang sudah ada.

Hal ini bisa dengan mudah digambarkan dengan berakhirnya bisnis toko buku di Amerika Serikat (AS) ketika digantikan oleh Amazon.com atau pun bisnis kantor pos untuk mengantarkan surat-surat yang digantikan dengan fungsi surat elektronik (e-mail/electronic mail).

Perbankan ke depan memang harus terus berupaya menjadi yang terdepan dalam menawarkan solusi keuangan melalui inovasi. Majalah The Economist edisi Mei 2015 ini menggambarkan tekanan yang hebat terhadap bisnis perbankan. Hal ini dapat terlihat pada dua sumber utama pendapatan perbankan yang mengalami penurunan, yaitu pertama dari selisih (margin) suku bunga penyimpan dan peminjam dan kedua layanan transaksional yang menghasilkan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI).

Keduanya, saat ini dapat digantikan oleh perusahaan lain. Pada pendapatan yang berasal dari selisih suku bunga penyimpan dan peminjam yang membutuhkan keahlian pada analisis kelayakan peminjam, The Economist menggambarkan bahwa layanan financial technology (fintech) yang dilakukan perusahaan nonperbankan mampu melampaui keakuratan analisis bank bahkan dalam melakukan proyeksi keuangan.

Lebih dari itu, pola peer to peer lenders yaitu mempertemukan peminjam dan pemberi pinjaman lewat mekanisme dalam fintech ini, dapat memitigasi risiko maturity mismatch yang sekaligus menghindari lembaga tersebut dari praktik bank gagal atau bank run yang dapat berakhir pada risiko sistemik.

Kemudian, di tengah perkembangan fintech pada layanan transaksional sebagai sumber penghasilan bank berupa FBI, lagi-lagi bisnis perbankan modern mengalami tekanan dari bisnis-bisnis lain yang mensubstitusi produk dan layanan perbankan tradisional tersebut. Di

AS, Wells Fargo yang memiliki basis di California atau wilayah barat AS, hari-hari ini tidak lagi berkompetisi dengan Bank of America melainkan mendapat tekanan dari “Silicon Valley”.

Perusahaan-perusahaan teknologi tersebut memberikan layanan jasa pembayaran (cash management, payroll, dan lain-lain) kepada perusahan-perusahaan, sekolah, dan instansi-instansi lainnya dengan layanan yang inovatif sekaligus murah.

Lebih dari itu, Chief Executive Officer (CEO) JP Morgan & Chase (JPM), Jamie Dimon menyampaikan tantangan ini kepada para pemegang saham (shareholder) JPM bahwa “Silicon Valley is coming” (Silicon Valley datang). Dimon sendiri menegaskan bahwa saat ini ada ratusan bisnis telah dimulai dengan sejumlah ide cemerlang dan modal yang kuat untuk menggantikan praktik perbankan tradisional.

Lebih dari itu, Accenture Consultant mencatatkan data pertumbuhan investasi atau belanja modal perusahaan fintech naik 201% secara global. Hal ini memperjelas bahwa revolusi digital pada industri keuangan sedang berjalan dan perlu diwaspadai. Seiring dengan tuntutan perkembangan fintech seperti digambarkan di atas maka perbankan perlu mengadopsi secara besar-besaran talenta-talenta dari dunia teknologi informasi dan komunikasi (information & communication technology/ICT) sehingga akan lebih mudah mengadopsi perkembangan teknologi. Bahkan perusahaan-perusahaan sekelas Google, Facebook, Amazon dan Baidu rela membayar mahal ahliahli terkait pengembangan artificial intelligence guna melancarkan proyek-proyek inovasi.

Kendali Segmen Bisnis

Hal lain adalah perbankan perlu memiliki kendali terhadap masing-masing segmen bisnis secara komprehensif. Sejalan dengan tren regulator di beberapa negara maju yang mencoba memisahkan bisnisbisnis bank untuk menghindari risiko sistemik, hal ini seyogianya dapat diadopsi oleh perbankan domestik untuk mampu menggukur keberhasilan masing-masing segmen bisnisnya secara akurat. Bahkan akan lebih baik lagi jika perbankan mampu mengukur produktivitas setiap produknya sehingga bisnis perbankan dapat terkendali dengan baik dan objektif.

Seiring dengan berkembangnya bisnis serta perubahan teknologi, sudah selayaknya perbankan melakukan pemetaan kembali terhadap proses bisnisnya atau business process re-engineering, sehingga pekerjaan-pekerjaan yang sudah tidak diperlukan dapat dieliminasi maupun dapat disederhanakan atau bahkan dilakukan secara otomasi. Langkah-langkah ini dapat secara signifikan menurunkan biaya overhead bank.

Belajar dari industri perbankan di negara-negara maju yang terus mendapat tekanan dari industri teknologi semestinya ini menjadi pelajaran berarti bagi perbankan domestik untuk lebih dulu mempersiapkan diri dalam mengantisipasi gelombang produk dan layanan keuangan yang menggantikan praktik perbankan tradisional. Di samping itu, perbankan juga perlu mempersiapkan diri di tengah ketidakpastian kondisi makro dengan strategi masing-masing segmen bisnis secara tepat dan terukur serta mampu melakukan efisiensi dengan merekayasa ulang proses bisnis.